Setelah selesai mencoblos, saya sih biasa-biasa saja. Kalau Pak Jokowi menang, saya senang. Kalau Pak Prabowo yang menang, saya juga senang. Karena saya menaruh kepercayaan bahwa kedua orang tersebut pasti akan bisa membawa Indonesia untuk menjadi lebih baik lagi. Yah, mana ada sih orang jadi pemimpin untuk merusak kelompoknya sendiri?
Sewaktu pengumuman hasil pemilihan, saya kagum. Ternyata persaingan sangat ketat sehingga selisi yang dicapai tidak sampai 60 : 40, dengan kata lain rakyat Indonesia sendiri pun menaruh kepercayaan yang sangat besar pada kedua orang tersebut bahwa dengan mereka, Indonesia akan dapat berubah menjadi yang lebih baik. Jika tidak, bukan tidak mungkin salah satu pasangan calon Presiden tersebut akan mendapat hasil 70 : 30 atau bahkan 80 : 20.
Namun dampak buruk dari selisih yang sangat sedikit tersebut, terbentuklah kelompok Fanatik. Bukan hanya kubu Pak Prabowo, tapi juga pada kubu Pak Jokowi!
Ayolah, Kalian ingin maju, tapi kalian menolak bila 'ia' menjadi Presiden. Gimana mau maju kalau rakyat tidak mendukung? Lalu jika Indonesia memburuk, kalian akan menyalahkan. Padahal kalian tidak mendukungnya? Menghina, menghujatnya, dan sejenisnya.
Kritik boleh, tapi kritik membangun. Bukan kritik untuk memojok. Kalian yang memilih, pasti sudah punya KTP, itu tanda kalau kalian sudah dewasa ''secara umur''.
Dan kalian para pendukung, jangan terlalu fanatik juga. Ia juga manusia, pasti punya kesalahan. Dia bukan Tuhan. Nabi pun bukan. Jika kalian melihat kesalahan, kritik! Jangan menutup mata!
Semakin lama, banyak orang yang niat sekali mencari kesalahan dari Presiden kita yang baru menjabat selama beberapa bulan ini, bahkan dengan sumber yang belum tentu benar atau tidaknya. Tapi saya kagum. Saya saja tidak sampai 'niat' seperti itu untuk mencari informasi seperti itu. Yang mungkin tidak bisa didapatkan dengan sering membaca koran, menonton berita, atau mengubek-ubek Google.
Kalau kalian sebegitu tidak inginnya dia jadi presiden, ya sudah pindah saja dulu ke negara lain. Belajar yang rajin, buat negara lain merekrut anda, 'curi' ilmu mereka, dan bawa ke Indonesia begitu Pak Jokowi sudah turun dari jabatan Presiden RI. toh, Pak Jokowi juga bukan Presiden Seumur hidup.
Kalau kalian nggak pingin balik ke Indonesia, ya udah. Yakin nih kalian bisa seperti Pak Habibie ? Diakuin sama negara lain gitu? Memang prestasi apa yang kalian sudah bikin? Nongkrong di Jejaring sosial untuk berdebat?
Kalian mungkin tidak ingat, Indonesia pada zaman kerajaan dulu, memiliki kerajaan yang sangat kuat. Bahkan ditakuti oleh negara lain. Daerah jajahan kita luas. Tapi kenapa kerajaan tersebut bisa musnah? Karena mereka bersatu untuk membentuk Negara Indonesia? Konyol, itu sih Jepang. Adanya juga karena kita DIADU DOMBA oleh orang luar.
Rakyat Indonesia, sudah dari dulu terkenal untuk gampang diadu domba satu sama lain. Seneng ya?
Jepang mengurung diri dari dunia luar selama beberapa tahun, efeknya nasionalisme mereka sangat kuat.
Indonesia dijajah oleh negara asing selama beberapa tahun, efeknya? Mungkinkah orang-orang jadi 'haus' akan kekuasaan? Sehingga korupsi menjamur kayak gitu.
Lihat negara lain, pada sibuk bikin robot, projek untuk pergi ke luar angkasa, dll. Eh, di Indonesia pada sibuk mikirin BBM yang suatu saat juga pasti habis.
Impian saya(?) dari dulu, ingin Indonesia bisa menjajah negara lain. Tapi dengan kondisi seperti ini, kayaknya hanya bisa dijadikan cerita. Kehancuran Indonesia bukan karena Presidennya. Tapi karena orang di dalam Indonesia sendiri.
Sudahkah kalian mentaati peraturan? Membuang sampah di tempatnya misalkan.
Menyebrang jalan di Indonesia itu 'horor'. Pejalan kaki yang harus hati-hati. Karena nggak jarang ada pengendara motor atau mobil (terutama motor) yang justru menginjak gas.
Kenapa harus ngebut? Terburu-buru begitu? Takut telat? Ya jangan jam karet dong.
Anggaplah tulisan ini sebagai unek-unek saya yang sudah sebel gara-gara setiap update di TL Facebook, isinya tentang itu-itu mulu. Sekian, semoga Indonesia bisa maju
Tidak ada komentar:
Posting Komentar